WANTED: Inovasi ICT di Diknas (brief)

Dalam era electronic seperti sekarang ini sudah saat nya pihak departemen pendidikan nasional memikirkan sebuah inovasi baru dalam menunjang pendidikan di Indonesia. Sebagai bahan pertimbangan marilah kita mafaatkan media internet ini sebagai sarana dasar dalam distribusi materi dan saran pembelajaran bagi para pendidik baik guru dan dosen.

Sarana Electronic dan Distribusi Materi
Sudah saatnya DEPDIKNAS memikirkan bagaimana seandainya materi pembelajaran dan atau materi lain yang perlu didistribusikan kesekolah-sekolah dapat dilakukan dalam format elektronik. Materi-materi dimaksud bisa didistribusikan dalam bentuk Compact Disc atau pun tersedia di Website DEPDIKNAS dan siap didownload ataupun di akses kapan saja. Tentunya website DEPDIKNAS pun harus setiap waktu diupdate dan berisi informasi-informasi yang patut diketahui oleh pihak sekolah-sekolah yang ada di wilayah Nusantar tercinta ini.
Bukan tanpa masalah memang medistribusikan materi-materi kesekolah-sekolah secara elektronic. Namun setidak nya hal-hal berikut ini patut menjadi bahan pertimbangan:
1. Materi yang didistribusikan melalui CD misalkan tentunya akan sangat menghemat biaya, waktu dan ruang. Sebagai analogi satu keping CD yang seharga Rp.2.500-Rp.3.000 tentunya akan mampu menampung isi dari 10-20 buku. Sudah jelas hal ini sangat-sangat menghemat ruang apa lagi bila biaya ekspedisi diperhitungkan. Tentunya dengan CD tidak hanya file-file teks saja namun juga file-file dalam bentuk sura, gambar dan video. Sehingga dengan ini komunikasi dari pusat kedaerah-daerah akan semakin efektif. Sebagai bandingannya adalah apabila materi dari pusat yang akan dikomunikasikan kedaerah hanya dalam bentuk teks. Kemungkinan salah tafsir tentunya lebih besar bila dibanding dengan komunikasi suara dan gambar.
Efisiensi waktu sudah jelas dapat dibayangkan betapa sangat mudah nya medistribusikan materi dalam bentuk CD karena tidak memerlukan ruang yang besar seperti halnya bila materi didistribusikan menggunakan media buku. Produksinya pun akan lebih mempersingkat waktu kaena mengkopi sebuah CD tentunya dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit. Lain halnya bila mencetak sebuah buku yang memerlukan waktu relatif lebih lama.

2. Dengan media elektronik seperti CD misalnya mencari sebuah data akan lebih mudah. Memang butuh setidaknya sebuah komputer namun hal itu adalah sebuah investasi tidak hanya sebagai inventaris sekolah tapi sebuah investasi ilmu pengetahuan. Guru-guru mau tidak mau harus berhadapan dengan komputer. Sehingga komputer nentinya kan menjadi media /Alat untuk bekerja, belajar dan riset bukan sebuah benda yang hanya menjadi objek belajar dan barang mewah yang tidak pernah disentuh karena takut akan merusakkannya.

3. Untuk materi-materi yang bisas disediakan di website DEPDIKNAS maka sebaiknya disediakan disana. Dengan hal tersebut akan lebih memudahakan bagi guru-guru didalam dan luar negeri untuk mendapatkannya. Materi pun dapat diupdate setiap saat sehingga materi pun tidak berhenti dalam pengembangannya.

Internet dan DEPDIKNAS.

Sudah saatnya di era elektronik seperti ini DEPDIKNAS menmanfaat teknologi seoptimal mungkin. Sebagai salah satu bahan wacana perlulah kiranya ide-ide dibawah ini dijadikan bahan pertimbangan pengembangan jaringan depdiknas dimasa depan supaya lebih efektif:
1. Depdiknas melalui kekuasaan pemerintah tentunya tidak terlalu berat untuk mewujudkan jaringan internet di sekolah bahkan didaerah pelosok sekalipun. Dengan asumsi Depdiknas mampu menjadi provider internet bagi sekolah-sekolah didaerah. Bayangkan betapa hal ini akan menghemat biaya bila koneksi yang dimaksud diorganisir oleh Depdiknas atau dalam hal ini pemerintah. Tekmologi sekarang pun sudah relatif murah dan tentunya kita juga harus berfikir bahwa dengan membangun jaringan seperti itu adalah sebuah investasi dimasa depan. Sudah jelas investasi yang dimaksud yaitu investasi sumber daya manusia.

2. Kalau selama ini pihak sekolah-sekolah masih terkesan sendiri-sendiri dalam mengadakan jaringan internet disekolahnya. Maka tidakkah lebih baik bila hal ini difasilitasi oleh depdiknas dengan mengadakan jaringan internet bersama. Teknologi wireless tentunya sebagai solusi yang tepat bagi topografi wilayah indonesia yang mungkin masih harus memakan waktu bertahun-tahun bila menggunakan koneksi kabel untuk pengadaan Jaringan Internet.

3. Meskipun Pihak depdiknas tampaknya sudah menyediakan sarana diskusi online di Websitenya tampaknya masih sepi update. Forum-forum diskusi pun masih sepi dan terkesan kosong. Hal ini mungkin dikarenakan banyak hal misalnya saja: (a) Sekolah-sekolah atau pemerhati pendidikan belum banyak tahu tentang keberadaan website tersebut. (b) Belum banyak orang/mereka yang tertarik pada dunia pendidikan yang dengan leluasa mendapatkan akses Internet. (c) Belum adanya pengaruh nyata yg bisa dibawa kedunia pendidikan meluli diskusi online tersebut. Keberadaan Milis/Forumdiskusi lain seperti di Yahoogroups tampaknya justru lebih marak seperti misalnya Milis yang beralamat di dikmenjur@yahoogroups.com. Siapapun bebas memilih forum diskusi tentunya, tapi setidaknya bila Forum diskusi itu dikelola oleh sebuah lembaga yang punya otoritas di bidangnya tentunya akan lebih efektif dan mempunyai nilai lebih yaitu kepercayaan dari mereka yang berdiskusi dengan harapan akan ada tindak lanjut dari froum diskusi online dimaksud.

4. Apabila jaringan Internet sudah tersedia disetiap sekolah, setidaknya hal-hal berikut ini bias dipertimbangkan:

  1. Biaya komunikasi antara pusat dan daerah tentunya bisa ditekan dengan lebih murah. Teknolgi VoIP, Video Conference dan Sebagainya tentunya akan lebih mendekatkan pusat dan daerah.
  2. Komunnikasi data pun tentunya akan lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh kecil yang konkrit misalnya ketika akan diadakan ebatanas dimana setiap sekolah harus memasukkan data peserta unas kedisket yang hal ini tentuny bisa di gantikan dengan sistem online database. Tidak hanya database siswa database guru pun bisa dengan mudah diakses dan dikelola oleh pusat dan daerah.
  3. Dengan Sistem Informasi birokrasi baik yang menyangkut kependidikan, administrasi dan kepagawaian pun akan dengan sangat mudah diperpendek jalurnya tapi tidak mengurangi ketatnya pengawasan. Hal ini tentunya akan memangkas praktik-praktik pungutan dilapangan.