Teknologi Informasi, Sekolah, dan Pemerintah

Di beberapa sekolah komputer mungkin sudah tidak lagi menjadi barang  mewah ditengah tumpukan kertas-kertas di meja kerja Bapak/ Ibu guru, ataupun juga ditempat-tempat umum seperti di perpustakaan atau juga di laboratorium siswa. Namun demikian ada juga sekolah yg masih belum memiliki komputer meskipun hanya satu unit. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, sekolah-sekolah seperti itupun juga akan memiliki komputer dalam waktu yg mungkin tidak lama. Hal ini dikarenakan memang tutututan kebutuhan zaman dengan segala perkembangan teknologi yg ada didalamnya yg tampaknya tidak bisa tidak harus diadopsi oleh manusia. Yang perlu menjadikan pemikiran kita sekarang adalah bagaimana komputer-komputer tadi bisa bermanfaat baik langsung pada proses pendidikan disekolah ataupun proses tidak langsung seperti sebagai alat administratif.

Yang akan kita baca pada tulisan pendek ini adalah sekilas tentang bagaimana mengoptimalkan fungsi komputer di sekolah, dan perluya dukungan penting dari pihak “berkuasa” atau dengan kata lain pemerintah. Ada juga satu bahasan singkat tentang authoring softwares yg sengaja disisipkan untuk sekedar menunjang pemahaman tentang bagaimana komputer bisa digunakan untuk media pembelajaran disekolah. Terbersit pemikiran seperti ini karena seringkali kita melihat komputer hanya di jadikan pajangan disekolah dan terkadang hanya menjadi bahan untuk mebangga-banggakan sekolah, tanpa tahu bagaimana memanfaatkan nya untuk kepentingan penyelenggaraan pendidikan disekolah itu. Laboratorium komputer yang didesain mewah dengan hardware termutakhir pun sering menjadi “senjata” untuk perang psikologis dalam mencari siswa baru. Namun kenyataannya sering kali siswa-siswa dan bapak ibu gurunya pun takut atau ditakut-takuti karena komputer-komputer tadi dikhawatirkan akan  rusak.

Apa yg bisa kita lakukan dengan komputer disekolah?

Saran pertama mari kita ubah kesan kita tentang komputer. Mari kita ubah kesan kita bahwa komputer adalah barang yg “keramat” dan hanya boleh disentuh oleh orang yg tahu komputer. Kesan seperti ini mungkin sudah mulai berubah untuk masyarakat di kota-kota besar dimana komputer sudah mulai menjadi barang yang “lumrah” ditemui dilingkungan mereka, tapi bagi mereka yg masih di tempat-tempat di mana komputer masih menjadi barang yg komplementer dan mewah kesan “ keramat” tadi masih sering kali di jumpai. Hal ini biasanya banyak terjadi ditempat-tempat yang masih belum bisa dikatakan sebagai kota.

Saran kedua adalah dengan pemanfaatan komputer sekolah untuk media pembelajaran. Bagaimana memanfaatkan komputer untuk media pembelajaan? Cara pertama adalah dengan membiasakan guru untuk mengeksplorasi materi-materi dalam bentuk software. Hal ini perlu karena sekarang sudah tidak sedikit materi-materi pembelajaran yg tersedia dalam bentuk digital. Mungkin dalam hal ini kita sebagai guru khawatir dengan kesesuaian materi dengan kurikulum,  untuk mengatasinya cobalah sedikit browsing di internet. Utuk mengatasi hal ini pula perlu juga  browsing di toko-toko buku besar karena disanapun juga sudah tersedia katalog software yg bisa di manfaatkan di sekolah. Bila masih saja kesulitan menemukan materi dalam bantuk digital yang sesuai dengan kurikulum, maka perlulah kita sedikit kreatif dengan membuat nya sendiri.
Tidak seperti halnya seorang professional yg mendisain sebuah Courseware, namun sebagai seorang guru yg mendesain latihan-latihan tidak untuk dicetak keatas kertas namun  untuk ditampilkan di monitor. Mafaatnya?  Tentunya yang pertama  adalah bahwa kita sudah membiasakan anak didik untuk memanfaatkan ICT sebagai media belajar dan bukan hanya sebagai objek belajar seperti yg kebanyakan dilakukan disekolah-sekolah selama ini. Yang kedua, dengan mendisain materi dalam bentuk digital, maka pengarsipan dan kemungkinan pengembangannya dimasa depan kearah online education pun akan semakin dekat.  Dengan kata lain kemungkinan untuk disharing secara online pun semakin mendekati kenyataan. Tidak sulit hal ini untuk dilakukan, hanya butuh keyakinan dalam diri kita. Seperti halnya beberapa tahun yg lalu ketika pertama kali kita menggunakan program pengolah kata (Word Processor), dimana saat itu banyak diantara kitapun merasa kesulitan untuk menggunakannya. Sedikit bahasan mengenai pembuatan materi pembelajaran digital ini akan kita lihat pada bagian berikutnya didalam tulisan ini.

Setelah materi-materi digital kita siapkan, installah di beberapa komputer di sekolah. bebaskan (namun terkontrol) murid murid untuk mengeksplorasinya. Beberapa software mungkin perlu di jalankan lansung dari CD cobalah gunakan virtual/image  drive untuk keperluan itu. Software-software seperti Nero Image Drive dan Clone CD bisa digunakan untuk keperluan tersebut.

Untuk panduan bagi anak-anak, berikan semacam worksheet untuk kerja bersama. Berikan manual yang jelas untuk mengeksplorasi komputer dalam workshet tadi. Doronglah anak-anak agar terbiasa membaca dan bekerja berdasarkan instruksi tertulis. Karena hal ini akan sangat membantu ketika mereka harus belajar sendiri didepan komputer.

Saran Ketiga adalah biasakan guru-guru melakukan inventarisir soal dan materi dalam bentuk digital. Gunakan word processor untuk keperluan menulis materi dan persiapan pembelajaran. Ada baiknya juga menggunakan presentation software seperti power point, game show presenter dan lain lain nya  untuk keperluan presentasi materi pembelajaran.

Saran keempat adalah bila mungkin manfaatkan jaringan telepon disekolah untuk koneksi internet. Satu jam sehari lebih baik dari pada tidak sama sekali. Kalupun dedicated connection masih dirasa berat untuk  disediakan disekolah maka, dial-up pun bisa dilakukan. Butuh dana memang, namun bukan tidak mungkin hal itu untuk di pecahkan  bersama secara gotong royong. Hal ini perlu dilakukan mengingat perlunya anak-anak dan Bapak/Ibu guru mengenal internet dan potensinya dimasa depan. Tidak bisa tidak mengenal internet adalah yg perlu diperkenalkan sedini mungkin di dunia pendidikan kita.

Meski hanya impian penulis dan karena keawaman penulis akan regulasi telematika Indonesia, penulis hanya bisa menyarankan bahwa akan lebih baik apabila pihak-pihak  seperti Depdiknas dan Depag yg membawahi banyak sekolah bisa menyediakan koneksi wireless ke sekolah-sekolah untuk kemudian di sharing di sekolah-sekolah tersebut.  Tidak seperti yg terjadi saat ini dimana masing-masing sekolah yang mampu secara financial mengadakan koneksi sendiri ke internet service provider ( ISP) local atau bahkan satellite internet provider yang tentunya hal ini memerlukan biaya yg tidak sedikit. Apabila hal ini mungkin untuk dilakukan maka tidak hanya biaya yg bisa dihemat dalam jangka panjang tapi juga waktu. Tak ada lagi korupsi dengan alasan biaya dan waktu. Komunikasi pusat dan daerah pun dengan sangat mudahnya dilakukan.

Saran kelima adalah manfaatkan komputer untuk database sekolah. Bangunlah sebuah local area network (LAN) apabila terdapat komputer lebih dari satu. Tidak seperti selama ini dimana komputer disekolah hanya digunakan untuk mengetik dan sedikit mengolah anka-angka. Akan lebih baik lagi bila administrasi baik siswa maupun guru juga tercakup dalam database sekolah. Maksudnya adalah segala administrasi siswa yg berkenaan dengan daftar hadir, nilai, catatan perkembangan pribadi siswa, financial status, pinjaman perpustakaan, data kesehatan, data identitas  dan sebagainya bisa tersimpan dalam database sekolah dan bisa diakses kapan saja.  Dengan fungsi seperti ini maka waktu kerja guru dan tenaga administratif sekolah yg lain bisa dialokasikan untuk kegiatan lain. Karena dengan database system yg baik tentunya akan lebih mengefisienkan kerja guru dan tenaga administratif lainnya bisa. Pekerjaan menulis rapor yg berbelit-belit dan memakan waktu yg sangat lama  ( yang biasanya  berhari-hari) ,  akan dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit. Terlebih lagi analisis hasil belajar pun akan dengan mudahnya dapat dilakukan dengan hanya satu kali meng-klik tombol dilayar monitor. Bayangkan pula betapa sulitnya selama ini kita mencari data alamat orang tua siswa di buku besar dan didalam lemari yang terkadang kuncinya pun dibawa staff  Tata Usaha yg lagi dinas luar misalnya. Dengan database sistem yg baik kita bisa melakukan hal itu semua dengan mudah dan bahkan menemukan nomor telepon orangtua serta kemudian klik..berderinglah telepon orang tua dimaksud. Semua itu relatif tidak susah dilakukan, sekali lagi tidak susah untuk dilakukan, hanya butuh perubahan sikap kita, kesan kita terhadap penggunaan teknologi informasi disekolah.

Saran keenam adalah biasakan untuk mendorong siswa agar memanfaatkan komputer sebagai sarana belajar dan bukan hanya sebagai objek belajar. Perlu koordinasi memang untuk melakukan hal ini, khususnya disekolah-sekolah yg tidak banyak memiliki komputer. Namun demikian, hal ini tidak lah berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Kuncinya adalah perlu kompromi dan kerja sama antar guru dan pihak terkait sekolah lainnya. Pemanfaatan komputer bisa di jadwal. Satu hal kita janganlah membayangkan bahwa menugaskan siswa untuk memanfaatkan komputer sebagai media belajar akan memakan waktu berjam-jam hanya untuk segelintir siswa. Marilah kita berikan tugas-tugas menulis, atau pun sekedar mengamati materi-materi dalam bentuk digital yg bisa dilakukan berkelompok dan dalam waktu yg relatif singkat. Maksud dari saran ini adalah mendorong siswa dan membiasakn mereka untuk memanfaatkan dan  untuk bekerja dengan komputer sehingga akan terbentuk sikap dalam diri siswa bagaimana seharusnya memanfaatkan teknologi dalam hal ini komputer, dan bukan hanya terkagum-kagum akan teknologi tersebut.

Yang terakhir yang mungkin menjadi pertanyaan adalah tidakkah itu semua butuh biaya dan tenaga yg ahli. Jawaban tentatif untuk bisa cepat melangkah ke arah itu adalah dengan menggunaka jasa konsultan diluar sekolah. Bukankah hal itu akan memakan banyak biaya? Jawabnya adalah tentu. Tapi kesan mengeluarkan banyak biaya itu hanyalah kesan tentatif pula. Hal ini dikarenakan melihat betapa hasilnya akan jauh lebih berharga dari pada biaya yg dikeluarkan. Alokasikanlah dana untuk keperluan ini seperti selama ini pihak sekolah telah mengalokasikan dana untuk membeli kapur, kertas, dan peralatan drum band misalnya. Sekali lagi perlu kiranya diulang diakhir tulisan ini bahwa Perubahan sikap akan pemanfaatan koomputer disekolah itu perlu. Image atau kesan kita terhadap pemanfaatan komputer harus berubah. Wawasan kita akan pemanfatan teknologi informasi perlu kita tambah karena dengan hanya dengan demikianlah tentunya pelaksanaan ide-ide terbut diatas bisa dipercepat.

Authoring Softwares

Seperti telah disinggung diatas bahwa apabila kita para guru kesulitan untuk menemukan materi dalam bentuk digital yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum, atau sesuai dengan kebutuhan dikelas maka alternatif nya adalah dengan membuat sendiri latihan-latihan dimaksud. Sama seperti halnya dengan menggunakan word processor  yg mungkin saat ini sebagian besar dari kita sudah sangat akrab, maka penggunaan authoring softwares pun perlu pembiasaan. Semakin kita menggunakan nya semakian akrab lah kita dengan mereka.

Ada banyak authoring softwares yg bisa di dapat di pasaran. Cobalah menggunakan Google.com untuk mencarinya dengan kata kunci authoring tools misalnya, atau authoring softwares, atau quizmaker. Dari beberapa authoring tools mungkin yg bisa disarankan adalah sebagai berikut: Untuk yg freeware bisa dicoba eclipse crossword yang bisa didonwload dari http://www.eclipsecrossword.com/, hotpotato bisa didownload langsung dari http://hotpot.uvic.ca/. Dengan dua software tadi meskipun mungkin tidak memenuhi segala keperluan kita, tapi cukup lah untuk sekedar memulai membiasakan kita dengan membuat lembar kerja siswa dalam format digital. Dua software diatas pun akan memudahkan kita menerbitkan karya kita dalam format yang bisa dibaca oleh sebagian besar browser yg beredar di pasaran.  Apabila kita menginginkan yg lebih kompleks dan memenuhi kebutuhan kita yg kompleks pula bisa lah kiranya dicoba software-software seperti Toolbook, yang bisa didownload versi trialnya di http://www.toolbook.com/education/
Macromedia Authorware, dan Macromedia Breeze yg kemudian bisa digabungkan dengan Microsoft Power Point untuk pembuatan media video presentasi.

Software-software tersebut diatas hanyalah sedikit contoh dari yang sebenarnya berjumlah ratusan bahkan mungkin ribuan yg berada dipasaran. Sekali lagi, semuanya hanyalah masalah kebiasaan, begitu kita sudah terbiasa dengan satu software atau lebih maka  membuat tugas-tugas atau lembar kerja siswa dalam format digital, tak lain hanyalah masalah merubah kebiasaan kita dari membuat lembar kegiatan siswa atau soal-soal dalam bentuk cetak ke format digital. Ingat kesan kita terhadap teknologi informasi harus berubah.
Untuk Pemerintah

Berdasarkan apa yang telah kita bahas diatas, setidaknya ada beberapa hal yg patut menjadi perhatian pemerintah kita.  Yang pertama adalah sudah saat nya pemerintah juga memacu pengadaan software-software yang memacu pembelajaran dikelas. Mungkin dalam waktu dekat software-software tersebut tidak berfungsi sebagai bahan penunjang utama materi dikelas tapi sebagai materi tambahan yg akan memperkaya wawasan guru dan siswa. Kenapa hanya sebagai materi tambahan? Hal ini dikarenakan mengingat masih banyak juga sekolah yg belum memiliki fasilitas komputer. Sehingga langkah menyediakan software-software pembelajaran itu adalah sebagai langkah awal yg tidak bisa tidak harus dimulai dari sekarang. Hal ini tentunya juga sebagai upaya awal untuk meningkatkan computer literacy masyarakat kita yg memang saat ini masih tertinggal jauh dari negara-negara lain di dunia.

Yang kedua adalah pemerintah dalam hal ini mungkin bisa dimulai oleh Depdiknas dan Depag, perlu kiranya menyediakan software-software untuk keperluan administrasi siswa dan yang lain-lain disekolah. Sehingga komputer yang telah mereka bantukan ke sekolah benar-benar berfungsi optimal. Mungkin ada yang menilai hal ini terlalu berlebihan tetapi sebetulnya tidak. Banyangkan bila sekolah-sekolah sekarang berjalan sendiri-sendiri dan harus membiayai itu semua atas anggaran sekolah sendiri. Tidakkah akan lebih baik bila software itu dikembangkan oleh pemerintah melalui kerjasama dengan perguruan tinggi atau oleh orang-orang pemerintah yang “melek” teknologi informasi. Sulit? Jawabnya tentu tidak. Hanya butuh komitmen untuk  itu. Komitment yang kuat untuk membuat perubahan. Butuh dana? Tentu tapi tidak sebesar apabila dana-dana itu ditanggung oleh sekolah sendiri-sendiri.

Hal ketiga yang patut diperhatikan pemerintah adalah penyediaan sambungan Internet seperti yang telah disinggung diatas. Karena dengan demikian maka akan banyak hal bermanfaat yang tentunya dapat diperoleh. Diantaranya adalah lancarnya komunikasi pusat dan daerah. Komunikasi antar sekolah pun dengan sangat mudahnya dilakukan. Dengan tersambungnya internet disekolah-sekolah, materi-materi pembelajaran bisa dengan mudah diorganisir dan diupdate oleh pemerintah pusat. Tidak perlu lagi biaya cetak dan transportasi materi dari pusat ke daerah karena dapat dengan mudahnya dikirim atau didownload melalui Internet. Bukan kah hal ini akan menghemat biaya dan waktu? Dan bukankah hal ini juga mungkin akan menghambat proses korupsi yang mungkin sering kali terjadi akibat pengadaan materi-materi fisik buat sekolah.

Penutup

Mengakhiri tulisan ini perlulah kiranya pihak-pihak “berkuasa” seperti Depdiknas dan Depag tanggap terhadap pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi disekolah.  Bukannya mendewa-dewakan teknologi ini namun tentunya kita semua sudah menyadari bahwa betapa petingnya informasi di zaman sekarang ini yang memang menutut kita untuk selalu mengikuti perkembangan informasi. Pendidikan tanpa informasi yang andal dan mutakhir hanya akan memperlambat perkembangannya.

2 thoughts on “Teknologi Informasi, Sekolah, dan Pemerintah

  1. Thank You for the comment,
    Bisa sih cuma k ebetulan, Aku lagi sibuk. By the way, target awal penulisan catatan ini adalah untuk mereka yang di Indonesia, maksudnya orang Indonesia jadi belum kepikir untuk terjemahkan ke Bhs, Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s