Mengenang Ayah dan Ibu

father_sonTidak banyak yang aku ingat dari apa yang disampaikan ibu dan ayahku kepadaku. Bukan karena terlalu sedikit atau terlalu banyak tapi justru karena apa yang disampaikan oleh beliau langsung dapat merubah perilaku dan sikapku tanpa harus perlu aku cerna terlalu lama. Tutur kata beliau benar-benar ‘powerful’ untuk merubah sikap dan perilaku ku. Dan aku pun yakin itu adalah perilaku dan sikap baik yang aku lakukan, dan bukan perilaku jelek. Kenapa demikian? karena sangat-sangat jarang dan mungkin tidak pernah ibu ku berkata negative dan menuturkan kejelekan sedikit pun dihadapanku.Konflik, kesusahan, kejelekan, tak pernah rasanya beliau ungkapkan didepanku. Entahlah mungkin aku lupa, tapi yg jelaskan taka da satupun  ‘kenegatifan’ itu membekas dalam pikiranku.

Aku adalah hasil didikan Ibu dan Ayah ku. Sebuah kombinasi kepemimpinan yang luar biasa yang harus aku akui dan teladani. Ibu ku seorang yg sangat tegas dan keras pendiriannya, sementara ayahku adalah seorang yg sangat penyabar dan sangat pengertian. Hingga saking sabarnya akupun tidak ingat apakah aku pernah dimarahi oleh beliau atau tidak. Belum pernah ketidaknyamanan dari perkataan beliau aku rasakan membekas dalam hidupku. Satu hal yg pasti yg aku rasakan adalah justru keberadaan beliau berdua dalam hidupku yg terlalu singkat. Sehingga semua kebaikan beliau berdua dalam membesarkan dan mendidik aku belum sempat aku balaskan.

Kalau pun ada hal-hal yang aku ingat dari perkataan ibuku disaat ini adalah beliau pernah menasihati aku ketika aku dalam ‘masalah’ dengan kalimat seperti ini ‘ kamu laki-laki, harus kuat’ di kesempatan lain beliau juga berkata ‘jangan mengeluh… itu semua hanya karena kamu belum pernah merasakan tidak enak’. Sementara dari Ayahku aku ingat beliau berucap kepadaku ketika aku sedang galau mencari kerja beberapa saat seusai wisuda S1 ku, dengan kalimat sebagai berikut ‘ Santai dan sabar saja, semua ada waktunya’

Saat ini aku tidak tahu kata-kataku yang mana yg akan diingat anak-anakku kelak. Kata-kataku yg merubah perilaku dan sikap mereka. Terlalu lama waktu ku terbuang jauh dari mereka. Terlalu banyak dalil yg aku gunakan untuk membenarkan apa yang aku lakukan terhadap mereka saat ini. Hingga mereka mungkin tidak tahu dan tidak menyadari, apa yang pernah aku ajarkan kepada mereka yang langsung keluar dari mulutku. Yang jelas bagi mereka saat ini dan kelak mungkin hanya satu arti keberadaan ku yang jauh dari mereka, yaitu ‘aku jauh dari mereka’. Aku tidak tahu apakah ini akan membawa manfaat, aku tidak tahu kemana perjalanan ku ini akan berujung. Tapi satu pintaku yg selalu aku ucapkan dalam doa aku

Allohumma anzilna munzalan mubarokan wa anta khoirul munziliiiin’