KURTIBEL, KURTILAS, K-13 (Sekedar mengingatkan diri sendiri)

k13Beberapa hari ini socmed dan mass media, banyak diramaikan berita tentang kelanjutan nasib dari kurikulum ‘fenomenal Indonesia’ ini. Sejak awal kemunculannya memang si ‘kurikulum’ sudah mendapat banyak perhatian. Banyak yang mendukung, sekedar mebicarakan, mengkritik, dan bahkan sampai menghujat nya. Tapi tidak sedikit juga yang diuntungkan dengan kehadiran kurikulum baru ini. banyak tenaga-tenaga edukatif potensial di Indonesia yang kemudian kebagian ‘kue lezat’ proyek dadakan ini. Tidak sedikit diantara tenaga pendidikan kita kemudian ditraining ‘super singkat’ untuk kemudian menjadi penyambung lidah desainer kurikulum untuk dapat menyampaikan ‘maksud’ mereka ke para eksekutor lapangan, yang dalam hal ini tidak lain adalah ‘guru’ dan tenaga kependididikan ditingkat satuan pendidikan.

Salalu ada plus dan minus yang dapat kita cermati dalam setiap kejadian dalam hidup ini. Untuk ‘K-13’ ini mungkin plusnya bahwa kita telah belajar untuk menyambut pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kompetensi abad 21, berpikir kritis, bekerjasama, berkomunikasi, dan berkolabarasi menggunakan teknologi informasi. Setidaknya itulah pesan yang kita dapatkan dari semangat ‘Kurtibel’ Sebagai seorang yang beraktifitas didunia pendidikan selama kurang lebih 17 tahun baik di dalam dan di luar negeri. Saya terus terang angkat topi dengan niat baik desainer ‘kurtilas’ untuk membuat sebuah perubahan yang cukup scientifik dalam penyusunan kurikulum di Indonesia.

Namun demikian seperti halnya berita politik di Indonesia apapun ide yang berkembangan di negeri ‘sejuta komen’ (meminjam istilah ust yusuf mansur) ini selalu mendapat tanggapan yang luar bisa banyak dan heterogen (karena memang penduduk negara kita banyak).Tidak mudah menyatukan semua pendapat dan keinginan banyak orang karena memang latar belakang baik social, ekonomi, dan pendidikan penduduk kita juga berbeda-beda. Sementara saya yakin tidak sedikit yang akan setuju jika saya mengatakan bahwa latar belakang tadi banyak berpengaruh pada sebuah proses penyamaan ide. Hanya saja, sebagai seorang pendidik saya sangat prihatin ketika sebuah ide dengan semangat yang baik kemudian menjadi sesuatu yang dijelek-jelekkan seolah tidak ada harga nya sedikitpun oleh orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran sebuah ide tersebut, semisal ‘Kurkulum 2013’ ini.

Memandang sesuatu dengan semangat yang positif tentunya akan menghasilkan pemahaman yg positif. namun demikian sebaliknya prasangka dan niat negatif tidak jarang juga akan mepengaruahi penilain objektif kita. Dalam hal K-13, saya tidak memandang kontennya sebagai sesuatu yang mengandung banyak  kesalahan. Disamping semangat untuk mencapai kompetensi abad 21 seperti yang saya sebut diatas, semangat untuk pengembangan pendidikan karakter, kontekstual teaching and learning, pembelajaran dengan lebih memperhatikan learning sequence semisal (mengamati, bertanya, mengevaluasi, mengasosiai, dan menyajikan), tentunya bukan omomg kosong yang bisa ditinggalkan begitu saja.Hanya saja bukan berarti hal-hal baik tadi tidak lepas dari kekurangan. Tentu disana sini masih banyak kekurangan dan perlu diperbaiki. Dengan sedikit niat baik untuk pengembangan pendidikan di Indonesia, maka saya yakin kita tidak akan mengubur kebaikan kurtibel dan dengan semena-mena menggantinya dengan kurikulum lain.

Kenapa harus membakar lumbung padi jika kita bisa menangkap tikus yang menggerogoti lumbung tadi. Kekurangan K-13 yang mecolok dan sering menjadi objek ‘berita menarik’ karena kontroversial munkin, bisa disebut diantaranya singkatnya waktu uji coba, singkatnya waktu sosialisasi, seretnya distribusi materi dan mungkin juga beberapa hal kecil lain yang mestinya bisa diperbaiki. Tentu butuh waktu memang untuk memperbaiki. Dengan sedikit menahan diri, kita pun juga tidak akan mengait-ngaitkan nya dengan politik yang tentunya jika sudah demikian hanya akan semakin membuat runyam berita kurikulum dan ujung ujung nya kondisi pendidikan kita di negeri ini yang semakin ‘gawat darurat’ meminjam istilah pak Menteri DIKBUD 2014.

Kita perlu belajar menahan diri sebagai orang yang berpendidikan. Menunjukkan bahwa diri kita lebih tahu dan lebih akademis dari orang lain tentu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Kita hanya perlu untuk punya kepedulian untuk membangun pendidikan di Indonesia. Kalaupun kemudian alasan kepedulian ini dijadikan pembenaran untuk mengkritik K-13 tentu perlu kita sedikit menarik diri dan ikhlas menerima saran yg berupa pertanyaan semisal “sudahkah kemudian kita memberi saran yang lebih baik untuk meperbaikai kurikulum yang sedang ‘sakaratul maut’ ini?’. Kritik terhadap kurikulum ini perlu, tapi untuk meperbaiki dan bukan kemudian untuk mematikannya apa lagi hanya untuk sekedar kepentingan mendongkrak popularitas kita, sentimen politk atau karena fanatisme golongan. Lebih parah lagi kalau hanya sekedar untuk meluapkan kekecewaan karena tidak terlbat dan atau kebagian ‘kue proyek’ ini.

Dalam sejarah indonesia merdeka, pendidikan di Indonesia sudah mengalami beberapa kali pergantian kurikulum, 1947, 1952, 1964, 1968, 1975,1984, 1994, 1999, 2004 dan 2006.Kalau kita telaah lebih jauh, mungkin kita akan melihat bahwa yang kita lihat pada setiap pergantaian kurikulum-kurikulum itu tidak hanya modifikasi kecil tapi revolusi. Kita sadar bahwa kurikulum harus berubah karena zaman berubah, tatanan sosial berubah, teknologi berubah dsb. Namun demikian revolusi bukanlah kata yang tepat untuk kondisi indonesia saat Ini dan saya yakin kita tidak ingin revolusi dalam kurikulum. Kurikulum 2006 sudah didesain sedemikian rupa, dan tengan pendidik kita juga baru mulai memahami cara implementasi. Kalaupun ada kekurangan disana-sini akan lebih baik jika kemudian dimodifikasi seperlunya untuk kepentingan perbaikan. Kurikulum 2013 sebagai kelanjutan Kurikulum 2006 sebetulnya tidak banyak berubah, hanya penegasan reorganisasi dan kompetensi disana-sini. Namun demikian mestinya hal itu perlu sosialisai yang tentunya butuh waktu tidak yang tidak sedikit. Kalaupun ada yang perlu diperbaiki adalah proses edukasi tenaga pendidik kita agar bisa lebih pas dalam menerjemahkan dan mengeksekusi  kurikulum di lapangan.

Dengan dihentikannya K-13 dan menggatikannya dengan sesuatu yang jauh berbeda itu akan menjadi sebuah revolusi. Tapi nasi sudah menjadi bubur karena keputusan sudah diambil, Harapan kita saat ini adalah dengan dihentikannya K-13 akan menjadi momen untuk sebuah transisi curriculum change yang dapat disosialisikan dengan baik dan dicerna dengan baik pula oleh dunia pendidikan di Indonesia. Semoga penghentian ini akan dijadikan sebagai momen uji coba dan evaluasi K-13 yang lebih mendalam untuk kemudian dapat diambil langkah perbaikan nya dimasa depan. Langakha perbaikan yang benar-benar ‘research-based‘ Sehingga keputusan nasib K-13 ini pun kelak benar-benar sebuah ‘informed decision

Akhirnya sekedar menegaskan, dengan uji coba yang layak, mengakomodir masukan stake holder, bebas politik, rencana sosialisai yang mapan, serta edukasi massa yang baik oleh media massa,  insyaAllah akan lebih memuluskan niat baik curriculum change dan transisinya kelak. Tak kalah penting lagi, siapapun yang merasa pakar dalam dunia pendidikan ini hendaknya menahan diri dengan menyampaikan statement-stament yang kosntruktif (how can we make this curriculum better?) sehingga kelak akan bermuara pada suksesnya pendidikan di negara ini. Kritik tanpa saran bukan solusi…saya khawatir itu hanya cerminan sakit hati.