Masih tentang Kurikulum 2013

k13Setelah membaca koran online merdeka.com tanggal 7 desember 2014, saya merasa bahwa seperti dugaan saya sebelumnya bahwa saya tidak yakin mendikbud akan ‘membunuh’ kurikulum 2013 dengan begitu saja.Hal ini jelas tampak dengan masih diberlakukannya kurkulum di beberapa sekolah. Sebagai seorang ilmuwan dan peneliti saya yakin mendikbud butuh data empiris untuk sekedar merubah atau ‘membunuh’ K-13. Saya yakin beliau tahu bahwa tidak benar jika sebuah kebijakan diambil tanpa data penelitian, apalagi untuk kebijakan level nasional seperti K-13 ini.

Langkah penghentian ‘sementara’ K-13 adalah sangat bijaksana, untuk kemudian tetap dievaluasi pelaksanaan nya di beberapa sekolah yg sudah kadung melaksanakan. Sebelum data evaluasi hasil pelaksanaan didapatkan adalah tidak bijak untuk kemudian menetapkan sebuah kebijakan strategis.

Dengan menghentikan sementar K-13, dan melaksanakkanya secara terbatas akan ada cukup waktu untuk ‘piloting’ kalau tidak mau disebut ‘uji coba’ karena mungkin akan muncul komen dari ‘pakar’ pendidikan bahwa ada kesan seolah-olah ada murid yang dikorbankan. Dengan piloting project K-13 ini setidaknya akan ada input untuk merevisi, sekali lagi ‘merevisi’ kurikulum fenomenal tersebut. Segala kekurang akan diperbaiki guna implementasi yang lebih baik untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Untuk maksud tersebut hendaknya ‘Syahwat’ politik dan fanatisem golongan di kekang kuat-kuat agar tidak mempengaruhi proses pengembangan pendidikan ke arah yang lebih baik.

Akhirnya ibarat memperbaiki rumah yang bocor, kita tidak perlu merobohkan rumah itu bila dengan mengganti genting yang bocor, menyelesaikan masalah air hujan yang masuk kedalam rumah.Demikian juga dengan perihal kurikulum kita ini, tidak perlu mebongkar kurikulum jika kekurangannya bisa dilengkapi. Yang jelas kurikulum memang harus berubah karena jaman juga berubah. Kondisi sosial ekonomi, pendidikan, teknologi saat ini sudah sangat mendesak untuk para penguasa dunia kependidikan di negara kita mengambil langkah penyesuian proses dan arah pendidikan anak-anak bangsa. Untuk itu kita semua harus legowo jika memang perubahan itu harus terjadi. Tugas kita semua cukup untuk mengawal perubahan itu agar jelas arah dan tujuannya dan bukannya jadi penghambatn perubahan itu. Selanjutnya untuk keperluan mengawal tersebut sumbang saran dan kritik itu perlu, tapi dengan kritik yang konstruktif, bukan malah kritik yang menebar kebencian.

Sudahkan kita melakukan hal itu?